Kisah Tembok yang Memisahkan Jerman hingga 28 tahun



Milos Kmosek (kiri), seniman jalanan dari Slovakia, berpose sebagai penjaga perbatasan Jerman Timur di depan Gerbang Brandenburg. Akting seperti ini sesungguhnya dilarang karena dianggap tidak pantas. Berlin, kota besar nan megah di jantung tragedi Eropa pada abad ke-20, belajar untuk hidup dengan sejarahnya yang penuh masalah. (Gerd Ludwig)



“Dua ribu tahun yang lalu civis Romanus sum (Saya adalah warga Roma) adalah sebuah pernyataan paling membanggakan, Sekarang, di dunia yang merdeka ini, pernyataanya adalah 'Ich bin ein Berliner' (Saya adalah warga Berlin), semua orang merdeka, dimanapun mereka tinggal, adalah penduduk Berlin, maka dari itu, saya sebagai orang yang merdeka, bangga mengucapkan 'Ich bin ein Berliner!' “

Kutipan diatas merupakan bagian dari pidato terkenal yang dibacakan oleh John F. Kennedy pada tahun 1963 sebagai sebuah bentuk penentangan atas berdirinya Tembok Berlin buatan Jerman Timur yang didukung pihak – pihak komunis lainya. Tembok ini dirasa oleh banyak pihak, terutama Amerika Serikat dan sekutunya sebagai pemisah antara dunia barat dan timur, sekaligus pula “simbol” perang dingin.

Perlu diingat sebelumnya bahwa Jerman setelah Perang Dunia II berakhir, terpecah menjadi Jerman Barat yang dikuasai oleh Amerika Serikat dengan sekutunya, dan Jerman Timur yang kendalinya berada di bawah kekuasaan Soviet.

Kota Berlin yang merupakan daerah penting mengingat statusnya sebagai ibukota Jerman sejak dulu kala juga ikut terbagi menjadi dua wilayah, kedua wilayah ini terbagi menjadi Berlin Barat yang merupakan bagian dari Jerman Barat, sedangkan Berlin Timur yang dipegang oleh Soviet.

Namun terbaginya Jerman menjadi dua bagian ini tak disetujui semua orang, terutama mereka yang berada di wilayah Timur. Banyak warga Jerman Timur yang kemudian melarikan diri ke dunia Barat karena tak ingin hidup dibawah ideologi komunis yang mereka anggap membelenggu kehidupan mereka.

Akibatnya, sekitar dua juta warga Jerman Timur kemudian meninggalkan tempat tinggalnya dan pergi ke berbagai negara di wilayah barat.

Semenjak Jerman terbagi dua, diperkirakan hingga tahun 1961, ada sekitar tiga juta warga Jerman Timur yang berimigrasi ke dunia barat dengan tujuan melarikan diri dari komunisme dan mencari kehidupan yang mereka anggap lebih baik.

Sebagian besar dari mereka yang melarikan diri melalui kota Berlin, dan banyak dari mereka yang berasal dari kalangan pemuda yang notabene penggerak ekonomi. Selain itu diperkirakan sampai pada 1961 ada sekitar 1000 tenaga ahli jerman timur melarikan diri dari negaranya, seperti  dari kalangan ilmuwan, insinyur, dan kaum intelektual

Dengan kepergian banyak warganya,  kondisi perekonomian Jerman Timur menjadi buruk, sehingga pemerintah Jerman Timur merasa diperlukan sebuah langkah khusus untuk mencegah terjadinya lagi kepergian warga mereka ke dunia barat.

Atas persetujuan dari Soviet, Walter Ubricht selaku kanselir Jerman Timur kala itu memerintahkan dibuatnya langkah mengisolasi warga Jerman Timur dari dunia barat. Pada 12-13 Agustus dipasanglah kawat berduri yang memiliki panjang lebih dari 100 mil di perbatasan Berlin Timur dengan Berlin Barat.

Kawat berduri ini kemudian digantikan dengan tembok besar yang memiliki tinggi sekitar 4 m dan memiliki panjang hingga 155 km. Daerah sekitar tembok ini juga dilengkapi dengan menara penjanga yang dipersenjatai senapan otomatis.

Semenjak berdirinya tembok ini, akses menuju Berlin Barat merupakan sesuatu yang sangat dilarang oleh pemerintah Jerman Timur, memang ada sebuah izin khusus yang diberikan kepada beberapa pihak oleh pemerintah Jerman Timur, namun hal ini sangatlah jarang dilakuka
Pada 1970 tembok ini kemudian diubah tingginya menjadi 10 m karena masih banyaknya percobaan melewati tembok ini secara illegal.

Diperkirakan sejak berdiri hingga runtuhnya tembok ini, ada sekitar 5000 orang yang berhasil melarikan diri ke dunia barat melalui tembok ini. Salah satu usaha untuk melewati Tembok Berlin yang terkenal adalah dengan menggunakan tembok dengan cara menaiki balon udara.

Memang kedengaranya seperti di film, namun hal ini benar – benar dilakukan oleh Hans Strelczyk dan Gunter Wetzel pada 1979. Hans dan Gunter, dengan bantuan istri mereka kemudian menciptakan sebuah balon udara yang mereka rasa dapat membantu mereka melewati Tembok Berlin.

Setelah berhasil membuat balon udara itu mereka bereempat ditambah anak – anak mereka terbang setinggi 8000 kaki, berhasil melewati tembok itu, dan mendarat di sebuah hutan di Jeran Barat Walaupun banyak percobaan melewati tembok ini yang berakhir dengan keberhasilan, namun ada juga mereka – mereka yang gagal melewati tembok ini, diperkirakan ada sekitar 136 orang yang gagal melewati tembok ini, sebagian besar dari mereka mati ditembak oleh penjaga di sekitar tembok.

Setelah 28 tahun berdiri, tembok yang dianggap sebagai salah satu simbol terbesar perang dingin ini pun runtuh. Pemerintah komunis Soviet mengalami kemunduran, hal ini juga berdampak pada runtuhnya rezim komunis di negara – negara satelit komunis, tak terkecuali Jerman Timur.

Demonstrasi besar – besaran terjadi, warga Jerman Timur menyerukan akses bebas ke barat diadakan kembali, pemerintahan komunis yang dalam kondisi lemah kemudian memperbolehkan kembali akses ke Berlin Barat secara bebas pada  9 November 1989.

Pada hari itu juga, sorenya beberapa warga Jerman Timur yang disebut sebagai “Mauerspechte" (pelatuk tembok), mencoba menghancurkan tembok dengan menggunakan peralatan seperti palu godam. Lalu pada 23 November 1989, digunakann buldoser untuk menghancurkan tembok ini
Baru pada 1990, penghancuran tembok ini resmi dilakukan, dengan runtuhnya tembok ini, Jerman Barat dan Jerman Timur menandatangani

(Haydr Suhardy)
Kisah Tembok yang Memisahkan Jerman hingga 28 tahun Kisah Tembok yang Memisahkan Jerman hingga 28 tahun Reviewed by Bojig on August 18, 2015 Rating: 5
Powered by Blogger.